Matanya
sayup
Bagaikan
mengabaikanku yang ingin mendekat
Baik
tampaknya
Namun aku yakin akan keraguanku
Pandangannya
akan terus dibumi
Ketika
kita berpapasan dibelokan jalan
Sebenarnya
itu bukanlah berpapasan
Akulah yang merancangnya agar berpapasan
Pernah
sekali berbicara dengannya
Malamku
makin panjang jadinya
Empat
kali bertemu mata dengannya
Membuat bulanku diusir matahari
Tawanya
menghadap ke utara
Seseorang
dari arah selatan menghampirinya
Ketenangannya
bagai pantai yang sedang tidur
Namun ada ombak api ditatapannya
Aku
tahu sejak dulu
Dia
adalah matahari
Aku
tahu sejak dulu
Malam dan matahari tak bersatu
Lantas biarkan aku mengaguminya
Jangan
jauh-jauh
Karena dia
begitu mengagumkan
Entah
mengapa
Pertemuan
yang kusengajakan
Pernah
sekali tak ku sengajakan
Kali
itu dia yang menghampiri pandanganku
Semua organ tubuhku merapatkan diri. Sesak.
Bercerita
tentangnya satu halaman tidak mungkin cukup
Apakah dia
bahkan tahu siapa diriku?
Entahlah
aku tak peduli
Setidaknya
aku tahu siapa dia
Bisa dibilang sangat jauh dari tipeku biasanya
Rambutnya
tak bisa diayunkan oleh angin
Dia
terlalu lembut
Untuk
seseorang yang bising sepertiku
Tiga kali
dia masuk dimalam saat ku terlelap
Di mimpi,
ku puas memandangnya
Aku ini
bukan psiko
Hanya
saja, “malam ini sudikah kau jadi bunga ditidurku”

0 komentar:
Posting Komentar