Jumat, 31 Oktober 2014
SEJUJURNYA YANG KITA BUTUHKAN ADALAH SEORANG PENARI UNTUK MENGASAH BAKAT PEDANG.
Categories
teka-teki hidup(?)
No caption.
Hei, pernahkah kau berpikir apa yang
selalu loncat-loncat
kegirangan dipikiranku? Entahlah, aku bahkan merasa semua ini
merupakan suatu kejanggalan.
Ya, sepertinya di dalam pikiran ini selalu saja timbul beberapa konversasi
antara diriku dengan siapapun yang aku juga tak tahu. Terlalu banyak mengapa di
dalam kepala ini. Jika kalian di beri pilihan. Lahir dengan seluruh kemewahan,
atau sebaliknya. Dan untuk menjawab pertanyaan ini saja, aku butuh 10 menit.
Terlalu cepat?atau sebaliknya? jawaban dari mesin di kepalaku ini, aku akan
memilih dilahirkan dengan seluruh kemewahan. Bukan
karena ingin langsung berada dipuncak. Awalnya, aku berpikir sama dengan mereka
yang akan menjawab sebaliknya.. tetapi, tepat 2 detik sebelum 10 menit hatiku berubah.
Aku ragu jika kalian mengerti perkataanku. Sekejap aku berfikir.. jika aku
berada di puncak dan kemudian jatuh kebawah, memang akan terasa sakit. Hei, tapi kita belajar banyak, dan kita
akan lebih sabar. Sampai di titik kita tidak bisa melakukan apapun. Kita akan
mencoba menerimanya, dan mau tidak mau memulai semuanya dari awal. Awal yang
sesungguhnya. Sedangkan sebaliknya, jika berada dibawah kemudian seiring
berjalannya waktu telah mencapai puncak, aku rasa aku akan menjadi bedebah. Selalu
menginginkan lagi dan lagi. Semakin semangat,
semakin menghalalkan segala cara. Semakin di usir, maka semakin berani pula. Dan baru saja, 3 detik yang
lalu. Pemahaman tentang hal itu berubah lagi. Menjadi sebaliknya. Memilih lahir
dari nol. Dan aku tidak akan menjelaskannya seperti situasi yang pertama. Malas.
Sepertinya, pertanyaan yang selalu bertanya ini semakin lama semakin banyak.
Semakin dilanjutkan semakin tak ada habisnya. Mengapa kalimat ‘tidak mau
melakukannya’ di padatkan menjadi kata ‘malas’. Kawan-kawanku yang cukup bijak
selalu mengatakan ‘bukan tidak ingin, tapi malas. Bukan tidak mau melakukannya,
tapi malas’. Bukankah, malas itu hadir ketika kita tidak cukup ingin
melakukannya? Kita tidak akan malas, jika kita ingin melakukannya. Akupun susah
mendeskripsikan apakah ‘malas’ ini. Sepertinya ini membosankan. Baiklah akan,
ku buat ketikan ini berparagraf.. aku batal melakukannya. Aku bahkan mengaplikasikan
kata malas itu untuk menekan tombol ‘del’ ataupun ‘backspace’
hanya untuk satu niat dan satu kalimat yang ku tulis sebelumnya. Hei, hitunglah berapa banyak aku menggunakan
kata hei dalam paragraf ini. Jika kalian benar, satu telur paskah untuk orang
yang menjawab lima.
Categories
teka-teki hidup(?)
...
Kali ini datangnya kabar dari utara
Meski belum waktunya
Sakuranya telah nampak
Kabarnya telah terlambat
Didahului angin yang melawan hujan
Matahari tidak lagi merindukan bulan sepertinya
Categories
teka-teki hidup(?)
Kamis, 30 Oktober 2014
salahkah terkaanku?
Aku bisa saja menulis
dengan sempurna apa maksudku
Sayangnya aku ingin
kau membacaku tanpa aku harus menulis
Sepertinya kau cukup
bingung dengan dirimu sendiri
Sehingga membuatku
ingin beranjak
Seandainya saja kemarin kita telah bersama
Seandainya saja hari ini kita tetap bersama
Seandainya saja besok lusa kita masih bersama
Seandainya saja semua ini bukan seandainya
Katakan saja apa yang
tak ingin kau katakan
Setidaknya aku akan
berusaha untuk tuli
Tanpa perlu terlalu
sadis
Setidaknya aku
memahami
Kau memang menginginkanku disini
Tapi kau tak benar-benar ingin
Jangan tanyakan apa yang aku terka tentangmu
Aku hanya menerkanya tidak sengaja
Categories
teka-teki hidup(?)
di beranda
Almost been two years iam in college, i just homesick right now.
i suggest to you banda neira- di beranda
di beranda
Oh, Ibu
tenang sudah
lekas
seka air matamu
sembapmu
malu dilihat tetangga
Oh, ayah mengertilah
Rindu ini
tak terbelenggu
Laraku
setiap teringat peluknya
Kamarnya
kini teratur rapi
Ribut
suaranya tak ada lagi
Tak usah
kau cari dia tiap pagi
Dan jika
suatu saat
Buah
hatiku, buah hatimu
Untuk
sementara waktu pergi
Usahlah
kau pertanyakan ke mana kakinya kan melangkah
Kita
berdua tahu, dia pasti
Pulang ke
rumah
Kamarnya
kini teratur rapi
Ribut
suaranya tak ada lagi
Tak usah
kau cari dia tiap pagi
Dan jika
suatu saat
Buah
hatiku, buah hatimu
Untuk
sementara waktu pergi
Usahlah
kau pertanyakan ke mana kakinya kan melangkah
Kita
berdua tahu, dia pasti
pulang ke rumah.
Categories
HOW'S LIFE!
Langganan:
Postingan (Atom)