Jumat, 31 Oktober 2014

Diposting oleh Trimeilana di 09.45 0 komentar
SEJUJURNYA YANG KITA BUTUHKAN ADALAH SEORANG PENARI UNTUK MENGASAH BAKAT PEDANG.

No caption.

Diposting oleh Trimeilana di 09.36 0 komentar

Hei, pernahkah kau berpikir apa yang selalu loncat-loncat kegirangan dipikiranku? Entahlah, aku bahkan merasa semua ini merupakan suatu kejanggalan. Ya, sepertinya di dalam pikiran ini selalu saja timbul beberapa konversasi antara diriku dengan siapapun yang aku juga tak tahu. Terlalu banyak mengapa di dalam kepala ini. Jika kalian di beri pilihan. Lahir dengan seluruh kemewahan, atau sebaliknya. Dan untuk menjawab pertanyaan ini saja, aku butuh 10 menit. Terlalu cepat?atau sebaliknya? jawaban dari mesin di kepalaku ini, aku akan memilih dilahirkan dengan seluruh kemewahan. Bukan karena ingin langsung berada dipuncak. Awalnya, aku berpikir sama dengan mereka yang akan menjawab sebaliknya.. tetapi, tepat 2 detik sebelum 10 menit hatiku berubah. Aku ragu jika kalian mengerti perkataanku. Sekejap aku berfikir.. jika aku berada di puncak dan kemudian jatuh kebawah, memang akan terasa sakit. Hei, tapi kita belajar banyak, dan kita akan lebih sabar. Sampai di titik kita tidak bisa melakukan apapun. Kita akan mencoba menerimanya, dan mau tidak mau memulai semuanya dari awal. Awal yang sesungguhnya. Sedangkan sebaliknya, jika berada dibawah kemudian seiring berjalannya waktu telah mencapai puncak, aku rasa aku akan menjadi bedebah. Selalu menginginkan lagi dan lagi. Semakin semangat, semakin menghalalkan segala cara. Semakin di usir, maka semakin berani pula. Dan baru saja, 3 detik yang lalu. Pemahaman tentang hal itu berubah lagi. Menjadi sebaliknya. Memilih lahir dari nol. Dan aku tidak akan menjelaskannya seperti situasi yang pertama. Malas. Sepertinya, pertanyaan yang selalu bertanya ini semakin lama semakin banyak. Semakin dilanjutkan semakin tak ada habisnya. Mengapa kalimat ‘tidak mau melakukannya’ di padatkan menjadi kata ‘malas’. Kawan-kawanku yang cukup bijak selalu mengatakan ‘bukan tidak ingin, tapi malas. Bukan tidak mau melakukannya, tapi malas’. Bukankah, malas itu hadir ketika kita tidak cukup ingin melakukannya? Kita tidak akan malas, jika kita ingin melakukannya. Akupun susah mendeskripsikan apakah ‘malas’ ini. Sepertinya ini membosankan. Baiklah akan, ku buat ketikan ini berparagraf.. aku batal melakukannya. Aku bahkan mengaplikasikan kata malas itu untuk menekan tombol ‘del’ ataupun ‘backspace’ hanya untuk satu niat dan satu kalimat yang ku tulis sebelumnya.  Hei, hitunglah berapa banyak aku menggunakan kata hei dalam paragraf ini. Jika kalian benar, satu telur paskah untuk orang yang menjawab lima.

...

Diposting oleh Trimeilana di 09.25 0 komentar

Kali ini datangnya kabar dari utara
Meski belum waktunya
Sakuranya telah nampak

Kabarnya telah terlambat
Didahului angin yang melawan hujan
Matahari tidak lagi merindukan bulan sepertinya

Kamis, 30 Oktober 2014

salahkah terkaanku?

Diposting oleh Trimeilana di 08.10 0 komentar

Aku bisa saja menulis dengan sempurna apa maksudku
Sayangnya aku ingin kau membacaku tanpa aku harus menulis
Sepertinya kau cukup bingung dengan dirimu sendiri
Sehingga membuatku ingin beranjak

Seandainya saja kemarin kita telah bersama
Seandainya saja hari ini kita tetap bersama
Seandainya saja besok lusa kita masih bersama
Seandainya saja semua ini bukan seandainya

Katakan saja apa yang tak ingin kau katakan
Setidaknya aku akan berusaha untuk tuli
Tanpa perlu terlalu sadis
Setidaknya aku memahami

Kau memang menginginkanku disini
Tapi kau tak benar-benar ingin
Jangan tanyakan apa yang aku terka tentangmu
Aku hanya menerkanya tidak sengaja








di beranda

Diposting oleh Trimeilana di 03.56 0 komentar
Almost been two years iam in college, i just homesick right now.
i suggest to you banda neira- di beranda

di beranda



Oh, Ibu tenang sudah
lekas seka air matamu
sembapmu malu dilihat tetangga

Oh, ayah mengertilah
Rindu ini tak terbelenggu
Laraku setiap teringat peluknya 

Kamarnya kini teratur rapi
Ribut suaranya tak ada lagi
Tak usah kau cari dia tiap pagi

Dan jika suatu saat
Buah hatiku, buah hatimu
Untuk sementara waktu pergi
Usahlah kau pertanyakan ke mana kakinya kan melangkah
Kita berdua tahu, dia pasti
Pulang ke rumah 

Kamarnya kini teratur rapi
Ribut suaranya tak ada lagi
Tak usah kau cari dia tiap pagi 

Dan jika suatu saat
Buah hatiku, buah hatimu
Untuk sementara waktu pergi
Usahlah kau pertanyakan ke mana kakinya kan melangkah
Kita berdua tahu, dia pasti 
pulang ke rumah.


 

swingswingland~ Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos