Hei, pernahkah kau berpikir apa yang
selalu loncat-loncat
kegirangan dipikiranku? Entahlah, aku bahkan merasa semua ini
merupakan suatu kejanggalan.
Ya, sepertinya di dalam pikiran ini selalu saja timbul beberapa konversasi
antara diriku dengan siapapun yang aku juga tak tahu. Terlalu banyak mengapa di
dalam kepala ini. Jika kalian di beri pilihan. Lahir dengan seluruh kemewahan,
atau sebaliknya. Dan untuk menjawab pertanyaan ini saja, aku butuh 10 menit.
Terlalu cepat?atau sebaliknya? jawaban dari mesin di kepalaku ini, aku akan
memilih dilahirkan dengan seluruh kemewahan. Bukan
karena ingin langsung berada dipuncak. Awalnya, aku berpikir sama dengan mereka
yang akan menjawab sebaliknya.. tetapi, tepat 2 detik sebelum 10 menit hatiku berubah.
Aku ragu jika kalian mengerti perkataanku. Sekejap aku berfikir.. jika aku
berada di puncak dan kemudian jatuh kebawah, memang akan terasa sakit. Hei, tapi kita belajar banyak, dan kita
akan lebih sabar. Sampai di titik kita tidak bisa melakukan apapun. Kita akan
mencoba menerimanya, dan mau tidak mau memulai semuanya dari awal. Awal yang
sesungguhnya. Sedangkan sebaliknya, jika berada dibawah kemudian seiring
berjalannya waktu telah mencapai puncak, aku rasa aku akan menjadi bedebah. Selalu
menginginkan lagi dan lagi. Semakin semangat,
semakin menghalalkan segala cara. Semakin di usir, maka semakin berani pula. Dan baru saja, 3 detik yang
lalu. Pemahaman tentang hal itu berubah lagi. Menjadi sebaliknya. Memilih lahir
dari nol. Dan aku tidak akan menjelaskannya seperti situasi yang pertama. Malas.
Sepertinya, pertanyaan yang selalu bertanya ini semakin lama semakin banyak.
Semakin dilanjutkan semakin tak ada habisnya. Mengapa kalimat ‘tidak mau
melakukannya’ di padatkan menjadi kata ‘malas’. Kawan-kawanku yang cukup bijak
selalu mengatakan ‘bukan tidak ingin, tapi malas. Bukan tidak mau melakukannya,
tapi malas’. Bukankah, malas itu hadir ketika kita tidak cukup ingin
melakukannya? Kita tidak akan malas, jika kita ingin melakukannya. Akupun susah
mendeskripsikan apakah ‘malas’ ini. Sepertinya ini membosankan. Baiklah akan,
ku buat ketikan ini berparagraf.. aku batal melakukannya. Aku bahkan mengaplikasikan
kata malas itu untuk menekan tombol ‘del’ ataupun ‘backspace’
hanya untuk satu niat dan satu kalimat yang ku tulis sebelumnya. Hei, hitunglah berapa banyak aku menggunakan
kata hei dalam paragraf ini. Jika kalian benar, satu telur paskah untuk orang
yang menjawab lima.
Jumat, 31 Oktober 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar