Sebut saja
namanya Ratna. Seorang gadis dengan rambut hitam berponi, yang sedang beranjak
14 tahun. Gadis yang memiliki cukup banyak teman. Banyak pula yang bukan
kawannya, namun sekedar saling tahu wajah dan nama. Tak kurang tak lebih. Bisa
dikatakan dia cukup beruntung dapat bertemu teman-teman yang bisa memahami
dirinya. Teman-teman yang cukup populer dikalangan sekolahnya. Namun, selain
dari teman-temannya ini orang-orang mengenalnya dengan gadis dingin yang sulit
untuk diajak berteman. Menurutnya, tak sedikit orang yang pernah membicarakan
dirinya. Ketika sedang berjalan ia sering mendengar bisikan namanya. Entah itu
hal baik ataupun buruk dia tak peduli. “Jangan coba-coba dekati Ratna, dia
gadis jutek dan cuek. Percayalah, sudah banyak yang mencoba”. Ternyata benar
orang-orang membicarakannya. Tak jarang pula, dia di juluki sebagai ‘Gadis Es’
akibat tatapan mengintimidasi dan senyum nya yang minim. Namun sejujurnya dia
anak yang supel dan periang di waktu-waktu tertentu. Kapan? kadang-kadang atau
pada saat dia sedang bersama keluarganya. Pada waktu itu dia masih memiliki
cinta pertama yang tak pernah dia katakan. Cinta monyet. Cinta pada saat
sekolah dasar. Tapi, cerita ini bukan tentang cinta pertama ataupun pacar
pertamanya. Hanya saja orang lain~.
Kehidupan
percintaannya dimulai pada saat duduk di kelas 3 SMP. Dia salah satu tipe gadis
yang ragu, cuek,dan....takut dalam hal seperti ini. Namun, mau tak mau hal
percintaan akan mendatangi kehidupan tiap gadis normal didunia ini. Termasuk
Ratna. Setelah kisah dengan cinta dan pacar pertamanya berakhir dengan singkat
di sertai embel-embel sakit hati, dia memutuskan berhenti bermain dengan
hatinya. Oh ya, pacar pertama dan cinta pertama (yang menjadi pacar kedua) -nya
memilih meninggalkan Ratna. Untung saja Ratna bukanlah tipe gadis yang rapuh
dalam hal seperti ini. Dia tetap ceria dengan beberapa kawannya. Lalu...
beberapa saat kemudian cerita cinta nya yang cukup panjang pun dimulai.
Mengikuti
sebuah bimbingan belajar disuatu tempat, merupakan pilihan yang baik dilakukan
Ratna dan kawan-kawannya jika di ingat-ingat mereka tengah berada di tahun
terakhir SMP yang sebentar lagi akan mengikuti ujian. Meskipun pada awal mengikuti les, mereka selalu
bolos dan pergi bermain entah kemana. Hingga pada saat mereka tahu bahwa sudah saatnya
untuk serius belajar.
Di suatu sore
yang mendung Ratna berlari di koridor tempat lesnya, sesaat setelah menyapa tentor
yang tengah melayani beberapa calon murid baru yang sedang mendaftar mengikuti
bimbingan belajar juga, sama seperti dirinya sebulan yang lalu. Jam menunjukkan
pukul 15.25. Ah telat pikirnya. Badannya terhenti seketika seseorang menabrak
ujung bahunya. Sosok yang menabrak hanya menoleh sinis sekilas lalu melanjutkan
jalan setengah larinya itu. Ratna sepertinya menyukai orang itu. ‘ah mengapa
rasa suka ku ini jadi murahan begini.’ Batinnya kesal. Alhasil, setelah berlari
naik tangga dia diusir dari ruangan agar menunggu hingga jam kedua tiba. Tanpa
disadari Ratna memikirkan sosok yang bertemu dengannya tadi.
“ Katanya sih
si *tiiit* bakal mulai masuk hari ini dikelas VIP”,
“Oh ya? Dia adiknya
*tiiiit2* kan? Sekolah dimana dia?”
“Iyaaaa, katanya
sih cakepan yang ini.hohoho, dia di sekolah itu loh xxxx”
Ratna hanya
manggut-manggut mendengar teman-temannya bercerita tentang apalah itu yang
sampai membuat kehadiran Ratna tak ada artinya. Huh sedih. *eh kenapa jadi alay
begini ceritanya...
Pelajaran les
kedua telah berakhir. Bunga (teman Ratna) merapikan barang-barangnya segera
lalu berkata “Ku tunggu di bawah ya, mau lihat si *tiiiiit* penasaran abis nih”.
Di susul dengan Bulan,Bintang,Kejora di belakangnya. (Btw
lagi malas pikir nama yang bagus ya heuheu) Dan terakhir baru lah Ratna
dan Tari yang berjalan di belakang teman-temannya. Sepertinya kelas mereka yang
paling pertama keluar ruangan jadi masih sepi. Seketika saja pintu ruangan
kelas B dan C terbuka, jadilah mereka berdesakan ditangga hihi. ‘Ah cowok yang
tadi sore’ batin Ratna. Ratna terdiam melirik pemandangan yang berjalan itu
beberapa menit sehingga membuat dirinya berada di rombongan paling belakang.
Melihat punggung sosok itu menjauh. ‘Ingat
na, masih ada pacar. Belum putus. Paling bentar lagi diputusin na. Dia kan ada
cewe lain’ Batin Ratna lagi. (Pada saat itu, cerita cinta Ratna dengan cinta
pertamanya belum berakhir. Hanya saja ku malas membahasnya heho).
Mencari
teman-temannya untuk diajak ke tempat makan lalu pulang ke rumah, Ratna malah
mendapati teman-temannya sedang membicarakan sesuatu. Membicarakan hal yang
tadi sepertinya. Di bagian lain terdapat segerombolan cowok. Anak les lainnya.
Ada beberapa yang sedang bercanda tawa, sedang berkaca di spion miliknya ataukah
spion motor orang lain. Entahlah. Dan ada juga seseorang yang sedang duduk
santai diatas sebuah motor biru. Seseorang yang sedari tadi membuat Ratna
penasaran. Seseorang yang terlihat tidak banyak bicara seperti yang lainnya.
Mendengar teman-temannya sepertinya sedang membicarakan sosok itu, Ratna pun
memilih bergabung karena penasaran.
‘Oalah,
namanya Galih toh’ Batin Ratna.
*Bersambung...
***