Hai, saya tidak tahu mulai dari mana. Saya ingin beralih-alih menuju curhat namun muak. Lambat laun saya mulai paham betapa besarnya peranan sang waktu dalam give&take. Setiap orang punya sepinya masing-masing dan saya tidak perduli akan hal itu. Entahlah, mengapa saya merasa sepi padahal kehidupan diluar sana sangat bising. Tapi kali ini saya tidak akan bercerita tentang sepi yang saya alami. Saya sudah menyuruhnya untuk enyah jauh ke Pluto sana.
Seperti yang telah saya katakan tiap orang punya sepinya masing-masing dan saya tidak perlu perduli akan hal itu. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya saya sadar ayah saya sedang berada diambang sepinya yang paling tinggi. Dan saya sedih. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya jauh dan saya tidak dapat memahami sepinya. Saya sudah mencoba namun saya masih belum bisa.
Ayah saya mengambil pensiun dini, dengan harapan dia ingin lebih bahagia. Namun kenyataannya, dia tipe seorang pekerja keras. Selalu mencari kegiatan sana sini. Hingga pada akhirnya terjadi beberapa perubahan. Dia menjadi seseorang yang sensitif. Selalu marah dengan dunia. Marah pada semuanya. Marah kepada dirinya yang lebih parah. Ayah saya menjadi tidak suka liburan, padahal dahulu dialah seorang yang selalu menjadi pencetus liburan.
Waktu itu saya masih tidak terlalu perduli. Saya masih sibuk dengan dunia yang ayah tidak ada didalamnya. Semakin berkembangnya waktu. Saya mengetahui kondisinya. Ayah selalu tidak bisa tidur, dan selalu menangis dimalam hari dengan doa-doa di sholat malamnya. Seorang diri. Pencetusnya apa? Hanya karena persoalan yang sangat-sangat sepele. Bahkan menurut saya itu bukan lah sebuah persoalan.
Ayah selalu merasa sendiri di dunia ini. Ayah selalu bersedih mengingat kedua orang tuanya yang bahkan saya tidak pernah temui sebelumnya. Ayah saya lupa memiliki kami, mungkin saja. Saya mengingatkannya setiap hari. Saya hanya takut sepinya mengalahkan dirinya.
Jam 3 dini hari ayah mengirim pesan. Saya tahu ayah saya sedang tak bisa tidur. Otaknya dipenuhi pikiran-pikiran negatif mengandung unsur sepi yang mendalam. Yang itu saya tidak bisa pahami. Ayah bersabarlah. Hingga saya bisa memahami, mungkin disaat itu juga saya akan pulang dengan membawa hal yang bisa mengobatinya. Hiduplah dengan sehat, dan jangan lupa bahagia.
- Putri Bungsu.

0 komentar:
Posting Komentar