Baiklah kali
ini saya akan bercerita tentang beberapa oknum yang menurunkan kualitas diri mereka sebagai manusia. Yang pertama, mereka
tidak membiarkan orang lain untuk berkembang dan mengembangkan sesuatu. Bahkan
mereka pun tidak mengembangkan sesuatu hal tersebut. Kedua.. tidak ada kedua. Rasis. Mungkin saya akan mengatakan hal ini rasis.
Dimana oknum tersebut berpendapat keunggulan selalu berada dipihak mereka, dan
akan bergaul sesamanya saja. Dimana pula mereka berpikir mereka punya hak untuk
mengatur orang lain. Mereka terlalu
sibuk mengurusi kualitas diri orang lain, sehingga mereka mengalami penurunan
kualitas diri mereka sendiri. Oknum tersebut merupakan sekumpulan orang yang
katanya cerdas dan entah mengapa orang
yg katanya cerdas ini, tidak bisa menerima bahkan tidak menghargai pendapat dan
prinsip orang lain. Saya pun terkadang
heran. Mereka terkadang membatasi sesuatu hal, dimana menurut ‘pendapat’ saya
sesuatu hal tersebut tidak boleh memiliki batasan. Misalnya, ilmu. Ilmu sifatnya bebas, tidak
terbatas, perlu dibagi, dan tidak boleh disembunyikan. Lama kelamaan saya
merasa semua hal ini menjadi aneh. Saya pun bertanya tanya. Mengapa ditempat ini banyak hal yang dibatasi?
Mengapa ditempat ini banyak hal yang tidak rasional? Terlalu banyak syarat yang
sangat tidak rasional untuk dilakukan. Diskriminasi
merupakan kata yang paling tepat ditempat ini. Terlalu banyak perlakuan tidak
adil terhadap sesama. Sesama manusia, sesama civitas akademika. Dan sepertinya
kalian sudah tahu tempat apa yang saya maksudkan. Mengapa mereka ingin menjadi hakim atas setiap pemikiran kita?
“Seorang terpelajar haruslah bersikap adil sejak dalam pikiran, apalagi
dalam perbuatannya”. Nah setelah membaca ungkapan itu sekarang saya kurang menganggap oknum tersebut panutan saya. Saya bukan orang cerdas
tetapi saya ingin menjadi cerdas. Meskipun saya belum tahu caranya. Saya tidak
ingin menjadikan oknum tersebut seorang panutan untuk saya menjadi cerdas.
Mereka tidak pernah berhenti membahas dan mempermasalahkan suatu hal yang sudah
ketinggalan jaman. Selalu berputar-putar. Meskipun mungkin menurut mereka hal
itu diumpamakan sebagai jantung ditempat ini, dan amat sangat berarti untuk
terus dipertahankan. Tapi saya tidak menganggap hal itu merupakan hal yang
penting. Mungkin pula tidak memiliki manfaat sama sekali. Tetapi, begitulah budaya. sebanyak apapun saya berpendapat akan susah untuk mengubah suatu budaya. Tapi lihatlah sekali lagi. orang-orang
diluar sana-civitas akademika di tempat lainnya, telah mengembangkan banyak
hal. Memperbaiki aspek lain. Yang lebih berguna dan memiliki banyak manfaat. Tapi,
bagaimana cara kami melakukan suatu
perkembangan? Kami belum cukup memiliki kuasa dengan banyaknya batasan dan
syarat yang ditetapkan ditempat ini. Mungkin sekarang kami belum berkembang.
Tetapi suatu saat, salah satu dari kami akan membuat perkembangan dan maju
kedepan. Atau bisa saja kami melakukannya bersama. Entah apakah itu saya masih bersama pendapat saya ataupun tidak, setidaknya perlu adanya agent of change. Saya tak tahu pendapat mereka kah atau pendapat kami yang paling mendekati kebenaran. yang saya tahu kebenaran itu eksistensinya kurang. Setidaknya, mereka tidak perlu membatasi seseorang untuk
berkembang hanya karena mind-set yang kita miliki tidak sejalan. Itu adalah sebuah
tindakan diskriminasi. Kita tidak boleh patuh pada ketidakadilan. Dan kelak kita tidak boleh menjadi bagian dari yang tak adil. sebenarnya adil itu apa? tak tahu. Saya tidak ingin menyalahkan pihak lain, karena saya belum memiliki pandangan dari sudut pandang mereka. Terkadang saya membenarkan dalam hati apa yang mereka katakan. Dan sejujurnya, membuat
tulisan seperti ini sedikit rumit--‘ . lagipula ini hanyalah sekedar pendapat saya. jika hipotesa yang saya sampaikan ini tidak disukai, tak perlulah kau memecahkan sebuah gelas//sekian. Salam damai.
0 komentar:
Posting Komentar