Sebuah programmer berbentuk secarik kertas ini masih kosong awalnya. Sebelum aku mulai menekan-nekan kesana kemari. Ini cukup hebat. Bukan karena aku menekan-nekan keyboard ini, aku tak sebodoh itu. Bukan juga karena Indonesia menjadi pusat fashion pertama didunia.. dan apakah itu terjadi?. Yang hebat itu adalah aku tidak bisa menyentuh dan menghancurkan kertas ini, seperti yang kulakukan dengan kertas-kertas malang itu. Jika kertas-kertas itu hasil dari eksperimen membuat novel, itu akan lebih terlihat berguna. Nyatanya, mereka hanyalah beberapa pesawat dan perahu yang tidak bisa terbang dan tidak bisa berlayar. Berwarna-warni pula. Mereka tergeletak disudut sana. Sungguh malang. Ah aku lupa, kalian bahkan tak tahu sudut mana yang ku maksud. Baiklah, Ini semua terlihat seperti omong kosong.
Lagi
lagi terjadi percakapan dikepalaku. Bukan seperti sebelum2nya, percakapan
diriku dengan diriku, diriku dengan otakku, diriku dengan siapapun. Entahlah.
ini lebih ke konferensi. Terlalu ramai. Apakah karena kali ini topik nya tentang hati,
jadi organ-organ yang lain ikut memberikan pendapat. Entahlah untuk yang kedua
kali.
Sedikit
omong kosong lagi, sepertinya ini akan memakan dua halaman bahkan lebih. Bukan
lagi paper.. tapi papers. Dan aku tidak menjamin, kosa katanya akan mulus~ mari ku perjelas. Mengapa semua makhluk
di muka bumi, jika itu tentang hati semuanya jadi lebih sensitif. Kalian
sepertinya sedang jatuh cinta kawan. Berbicara soal ini aku tak tahu banyak.
Mungkin kalian lebih tahu. Aku hanya bisa berargumen sedikit. Sepertinya benar,
jika kita tertarik kepada seseorang secara tidak langsung radar neptunus kita akan
muncul.
Dimanapun
dia, sejauh apapun dia. Selama mata kita bisa menangkap, meskipun hanya
terlihat seperti sebuah titik hitam yang aneh. Kita akan tahu itu dia. Di
tengah keramaian pun kita bisa mengenalinya. Dan jika yang kita beri julukan ‘dia’ ini juga mengeluarkan radar neptunus..
maka keduanya akan saling terhubung. Apakah benar begitu? Entah.
Semakin
hari, senyuman sering merekah tanpa kita sadari. Dan kita semakin semangat
menjalani hari-hari. Tentunya bukan karena teman. Tetapi karena dia. Meskipun,
teman tidak begitu berperan dalam semangat ini.. tapi jika mereka pergi entah
mengapa semangat ini akan menjadi mines
nol. mau seberapa banyak pun ‘dia’ di muka bumi. Kita memerlukan
keduanya. Dia dan kawan. Dan, Hei apakah kau mengerti, jika hanya satu
radar neptunus yang bekerja. Bolehkah aku menyebutnya
seperti secret
admirer?
Ah
jika itu, aku punya satu ketika dibangku sma. Dengan tingkat serius
nomor dua. Sejujurnya itu
lebih membahagiakan, di banding kedua radar saling terhubung. Lebih seru,
sebelum semuanya menjadi lebih serius. Serius yang kumaksud ini ada dua.
Satu; radar
satunya mengeluarkan radar tetapi malah berbelok ke radar lainnya. Padahal,
radar kita tepat dihadapannya. Dua; radar
satunya mengeluarkan radar dan mencoba menghubungkan radarnya kepada radar
milik kita. Tetapi kita terlalu takut untuk menerimanya. Dan memilih meng-non
aktifkan radar kita, memilih tetap menjadi secret admirer. Secret admirer for secret admirer.
Itu
tidak akan merubah keadaan sepertinya. Dan kemudian, hati ini mengeluh. Mengeluh karena ingin
menjadi orang-orang yang berada disekitarnya. Menyumpah sedikit untuk orang
yang hendak merebut posisinya. Posisi yang bahkan dia abaikan.
Kali
ini organ lainku mulai berpendapat. Semua perasaan campur aduk ini, semua
dagdigdug, semua rona merah dipipi (akupun belum pernah melihat rona ini secara
langsung), semua hal sehingga kita memilih untuk berpacaran. Semua itu hanyalah trik-trik dari langit.
Beberapa pengecoh iman. Seberapapun terlihat betapa baiknya, seberapa tidak
berbahayanya.. mereka tetap pengecoh. Pengecoh yang khusus dibuat untuk kita.
Makhluk ciptaan. Dan kadang aku sedikit terkecoh dengan dagdigdug yang
dikeluarkan oleh organ lainku ini.
Bukan karena aku religius, tapi salah satu organku mungkin
saja cukup religius. Hei, aku bisa membedakan mana baik mana buruk. Dan aku malah
tetap memilih melakukan banyak keburukan. Entah mengapa kadang aku tidak
memperhatikan organ ku yang masih terhubung dengan langit. Organ religius. Dan apakah
organ itu?aku mulai bertanya-tanya. Hati
sepertinya. Entah kenapa, otak dan jantung ini menunjuk hati sebagai
pelakunya. Berbicara soal iman, shalat ku masih penuh lubang. Dan aku sering
melakukan kebohongan, meskipun hanya kebohongan kecil. Kebohongan dengan maksud
mengerjai orang lain. Dan aku sadar, semakin dilakukan semakin menumpuk. Maka
jadilah big liar.
Aku
senang melakukannya,aku tak tahu mengapa. Mungkin ini efek umurku menjelang 17
tahun. Hoam. Dan setelah itu aku akan mencoba untuk tidak melakukannya. Sesuai
dengan keinginan orang tuaku tentunya. Melakukan kewajiban seorang muslim.
2 komentar:
Yuhuu
Lana hoyyy
Posting Komentar